• By Admin

Disambut Tepung Tawar, Merekam Aksi Bekantan hingga Penasaran Kuburan Tua

Satu persatu kepala diusap dengan ramuan tepung tawar. Beras kuning berjatuhan. Pertanda bergugurannya dosa dan penyakit. Ritual ini sebagai penghormatan bagi tamu yang datang.


PROSESI itu menjadi satu dari sekian kekayaan budaya yang dimiliki Desa Waru Tua. Rombongan STT Migas Balikpapan dan Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta, 28 Desember 2018 lalu berkesempatan merasakan sensasi itu. 

Setelah menyeberang menggunakan kapal feri dari Balikpapan, hanya 30 menit perjalanan darat untuk sampai di Kampung Waru Tua, Kelurahan Waru, Penajam Paser Utara.

Sebenarnya ini adalah kunjungan kedua. Direktur Direktorat Pengabdian Kepada Masyarakat UGM Prof. Ir. Irfan Dwidya Prijambada, M.Eng., Ph.D. sebelumnya sudah pernah datang.

Kunjungan kali ini untuk pemantapan rencana Kuliah Kerja Nyata (KKN) gabungan STT Migas Balikpapan-UGM Yogyakarta. Menjadikan Waru Tua sebagai desa ekowisata mandiri.

Dari Yogya, tim dipimpin Dr Rachmawan Budiarto, ST, MT , sekretaris Direktorat Pengabdian Kepada Masyarakat. Lalu, ada Nanung Agus Fitriyanto, SPt.,MSc.,PhD, kasubdit Layanan Masyarakat DPKM, Dr. Djarot Heru Santosa, M.Hum, Satuan Tugas Operasional KKN antara UGM-STT Migas Balikpapan, serta Dr.dr. Wahyudi Istiono, Dosen Pembimbing KKN UGM di Waru Tua nantinya, 

Sementara STT Migas Balikpapan dipimpin Karnilla Willard, S.E.BA,MBA yang merupakan ketua Tim Penelitian dan Pengembangan Desa Waru Tua Sebagai Ekowisata Mandiri, Kepala suku dalam proyek ini.

Ikut serta Ketua STT Migas Balikpapan Lukman, S.T, M.T didampingi Wakil Ketua III Bidang Kemahasiswaan Hamsir, S.Pd, M.T. Juga beberapa dosen Yuniarti S.T, M.T, Irma Andrianti S.Pd, M.T dan Riza Hadi Saputra S.T, M.T yang juga terllibat dalam tim. 

Keterlibatan UGM dalam pengabdian masyarakat ini melihat luasnya cakupan ilmu dalam program tersebut. Seperti sejarah, budaya, sosiologi, antropologi, biologi, konservasi, IT dan lainnya.

Sebagai kampus riset terbaik, UGM dipandang cocok mendampingi STT Migas yang notabene kampus teknik dengan spesialisasi energi,
Sebelumnya, kegiatan ini digagas akan dilaksanakan 21 Desember 2018. Harus diundur karena UGM harus mengirim mahasiswanya untuk melaksanakan KKN se-antero nusantara. Termasuk, beberapa daerah yang baru saja dilanda bencana seperti Lombok, NTB dan juga Palu, Sigi serta Donggala di Sulawesi Tengah.

Ada baiknya juga diundur. Tim jadi punya waktu persiapan lebih matang. Termasuk kunjungan kedua untuk mengumpulkan data serta potensi yang nantinya akan dikembangkan saat KKN 1 Maret hingga 31 April mendatang. Sekitar 7ribu lebih mahasiswa UGM setiap tahun dikirim ke seluruh Indonesia, kata Dr. Djarot Heru Santosa, M.Hum.

Rombongan dijamu di kediaman Ketua Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Waru Tua Abdullah Rahman. Pukul 09.45 Wita rombongan tiba.
Di sana sudah ada Kasubbag Pemberdayaan Masyarakat Pemkab PPU Saidi, Kadisdik PPU Marjani, Lurah Waru Rahmadi, Kepala UPT PU Waru Tri Maryono serta anggota DPRD PPU Zainal.

Beragam penganan siap melambung ke perut. Maklum, satu jam perjalanan menyeberangi Teluk Balikpapan cukup membuat perut lapar.
Bubur merah, bubur putih, bolu beras, kue cincin, tersaji rapi di piring. Semuanya dimasak secara tradisional. Kompor dengan kayu bakar. Alami. Jauh lebih terasa. Tambah nikmat dengan air nira sebagai pelepas dahaga.

Bagian ini juga menarik perhatian Dr.dr. Wahyudi Istiono. Kata dia, ritual budaya, makanan dan minuman menjadi konsep menarik untuk ekowisata. Menurutnya, ekowisata dimulai dari rumah sehat, lingkungan bersih, makanan sehat.

Kami datang dengan keinginan dan sedikit pengetahuan untuk dikembangkan bersama masyarakat, ujarnya bijak.
Puas menyantap penganan diselingi diskusi kecil, agenda selanjutnya menyusuri Sungai Tunan. Jam sudah menunjukkan pukul 11.00 Wita. Paket komplit menyusuri Sungai Tunan ini dimulai dari hulu melihat beragam jenis burung, Bekantan, Lutung lalu berakhir di hilir dengan bermain di Gusung, hamparan pasir yang nampak kala air laut surut.

Tim akhirnya memutuskan membagi penyusuran dalam dua tahap. Ke hilir untuk melihat titik-titik tempat bermainnya buaya muara lalu menunaikan ibadah salat Jumat di Desa Muara Tunan. Kemudian berlayar ke hulu karena Gusung belum nampak karena air laut baru surut sore hari. 
(Buaya) Tidak pernah mengganggu. Karena (manusia) tidak pernah mengganggu. Bahkan waktu kecil dulu, di sini salah satu tempat bermain saya, kata Abdullah Rahman, yang menjadi guide kami menyusuri sungai.
 
KHOTBAH JUMAT PALING SEDIH
Infrastruktur masih menjadi masalah di Kampung Waru Tua dan sekitarnya. Misalnya saja, dermaga yang belum memadai. Mayoritas masyarakat di sepanjang Sungai Tunan adalah nelayan. Melaut masih menjadi andalan karena potensi perikanan yang memang cukup besar. Berkebun, khususnya sawit sama sekali tidak menarik. Bahkan, masyarakat sepakat itu merusak.

Namun sayang kondisi dermaga jauh dari layak. Di Muara Tunan, dua kapal rombongan yang hendak menepi harus mencari posisi di antara kapal yang sudah lebih dulu sandar. Memanjat dermaga menjadi pilihan untuk sampai ke daratan.
Mayoritas masyarakat di Muara Tunan adalah suku Bugis. Meski ada dari Paser, pastilah mereka sudah fasih berbahasa Bugis. Mau bukti. Khotbah yang disampaikan Imam Alamin Nur siang itu berbahasa Bugis. Nyaris tidak ada di antara rombongan yang mengerti. Lebih-lebih empat doktor dari UGM itu. He-he.

Selepas salat, Pak Hamsir coba menjelaskan isi khotbah tadi. Tentang kehidupan di alam kubur, kata dia. Sedih. Karena isi khotbahnya, juga karena tidak mengerti bahasanya.

Perjalanan dilanjutkan. Matahari masih tertutup awan saat kapal mulai menyusuri Sungai Tunan ke hulu. 30 menit perjalanan dengan kecepatan rendah, rombongan Bekantan menyambut kami. Bertengger di pepohonan lalu melompat saat kami coba mendekat. Mungkin takut dengan raungan mesin kapal.

Ini juga bisa menjadi kajian. Bagaimana meredam suara  mesin supaya hewan-hewan tidak takut dan terganggu dengan kedatangan wisatawan, ujar Karnilla Willard.

Selain Nasalis Larvatus--nama ilmiah Bekantanrombongan juga menemukan kawanan Lutung. Monyet berekor panjang dengan nama ilmiah Trachypithecus cukup banyak ditemui. Sayang lensa kamera tidak cukup cepat menangkap aksinya.
Tim memutuskan kembali setelah puas merekam aksi Bekantan dan kawanannya. Sampai-sampai ada celetukan bahwa si monyet Belandakarena hidungnya yang mancungmerupakan pelaku kawin banyak garis keras.

Maksudnya, satu kawanan Bekantan yang berjumlah 10-15 ekor hanya dipimpin satu pejantan. Sebagai pemimpin, juga sebagai pasangan.
Perjalanan diakhiri dengan ziarah ke makam tua di sekitar dermaga Waru Tua. Di antara sekian banyak makam ada yang disebut berusia ratusan tahun.

Di nisan makam yang terbuat dari ulin, tertera angka 1132. Mungkin masehi, juga mungkin hijriah. Butuh ahlinya untuk meneliti serta memastikan berapa usia makam sebenarnya. Jika itu menunjukkan tahun penanggalan masehi, artinya kuburan itu sudah berusia 886 tahun. Atau kalau hijriah, sudah 308 tahun. Menarik menunggu hasil penelitiannya.



Artikel Lainnya

Kerjasama